fbpx
TraderHUB > Entertainment > Business Insight > Yuk Kenali Rasio Emas-Perak untuk Strategi Trading

Yuk Kenali Rasio Emas-Perak untuk Strategi Trading

Posted by: Adi Kurniawan
Category: Business Insight

Apakah kamu seorang investor atau trader emas? Kamu dapat memanfaatkan rasio emas-perak dan memasukkannya ke dalam strategi tradingmu. Dalam artikel berikut ini, kami akan menjelaskan mengenai segala hal yang berkaitan dengan rasio emas-perak. Yuk simak!

Apa itu Rasio Emas-Perak?

Kamu tidak perlu menjadi ahli matematika untuk memahami kesederhanaan di balik rasio emas-perak. Rasio emas-perak hanyalah ukuran berapa banyak biaya satu ons emas dalam perak, atau berapa ons perak yang kamu perlukan untuk membeli satu ons emas.

Perhitungannya cukup sederhana, untuk mendapatkan rasio saat ini antara emas dan perak, kamu hanya perlu membagi harga satu ons emas saat ini dengan harga satu ons perak saat ini. Misalnya, jika harga emas saat ini adalah $2.000, dan satu ons perak berharga $20, rasio emas-perak akan sama dengan 100, yaitu emas 100 kali lebih mahal daripada perak.

Meskipun memahami rasio emas-perak cukup mudah, sebagian besar investor dan trader tidak memperhatikan rasio tersebut. Namun, rasio emas-perak dapat menjadi ukuran yang bagus untuk mengidentifikasi siklus pasar saat ini dan dapat membantu dalam membuat keputusan investasi yang lebih baik.

Misalnya, harga emas akan sering naik ketika nilai dolar AS turun, atau ketika ekspektasi inflasi melonjak karena emas secara tradisional digunakan sebagai aset lindung nilai. Sementara, perak juga merupakan aset populer untuk lindung nilai terhadap inflasi. Rasio emas-perak cenderung turun ketika permintaan perak naik sebagai akibat dari permintaan industri yang lebih tinggi.

Apa yang Mendorong Harga Emas dan Perak?

Selama ribuan tahun, emas dan perak telah digunakan sebagai uang, sebagai penyimpan nilai, dan sebagai lindung nilai terhadap kenaikan harga dalam perekonomian. Daya tarik mereka di saat ekspektasi inflasi yang meningkat masih ada hingga saat ini.

Emas memiliki korelasi yang sangat tinggi dengan imbal hasil riil dalam perekonomian. Hasil riil adalah hasil nominal saat ini dikurangi tingkat inflasi saat ini (misalnya, CPI ). Ketika hasil riil turun, investor mencari kelas aset lain untuk memarkir modal mereka. Emas secara tradisional menjadi aset pilihan bagi investor ketika hasil riil rendah dan inflasi mengancam untuk mengikis modal mereka.

Harga emas juga cenderung naik ketika bank sentral besar mulai meningkatkan cadangan emas mereka. Bank sentral Rusia dan China adalah dua contoh selama dekade terakhir tentang bagaimana negara dapat mendorong permintaan emas lebih tinggi dan menaikkan harganya.

Emas juga merupakan logam yang sangat berharga dalam proses industri dan manufaktur. Salah satu kegunaannya adalah untuk menghantarkan muatan listrik kecil di smartphone, PC, dan peralatan medis, misalnya.

Pada tahun 2020, jumlah emas yang digunakan dalam teknologi menyumbang hampir 8% dari permintaan emas global. Perhiasan menyumbang 37%, dan investasi hampir 47% dari total permintaan emas. 

Selain emas, perak juga merupakan logam industri dan investasi yang sangat populer. Industri adalah pendorong utama permintaan perak, logam ini juga digunakan untuk investasi (sekitar 200 juta ons pada 2020), perhiasan (sekitar 150 juta ons pada 2020), panel surya (lebih dari 100 juta ons), dan fotografi (27 juta ons).

Ini berarti, peningkatan output ekonomi dan booming industri manufaktur cenderung mendukung harga emas dan perak. Tingkat inflasi yang meningkat, yang menurunkan hasil investasi riil, juga merupakan pendorong utama investasi emas dan perak.

Rasio Emas dan Perak Secara Historis

Secara historis, rasio emas-perak sebagian besar ditetapkan oleh pemerintah untuk tujuan stabilitas moneter. Selama Kekaisaran Romawi, rasio historis perak terhadap emas ditetapkan pada 12, yang berarti bahwa 12 ons perak membeli 1 ons emas.

Undang-Undang AS tahun 1792 juga merupakan peristiwa penting dalam sejarah rasio emas dan perak yang menetapkan rasio pada 15:1. Pada abad ke- 19, pemerintah AS memindahkan rasio menjadi 16:1.

Rasio biasanya naik pada saat pasar bearish pada emas, dan turun pada saat pasar bull pada emas. Alasan di balik ini terletak pada volatilitas perak. Karena perak dihargai jauh lebih rendah daripada emas, harganya cenderung lebih fluktuatif pada saat tren naik atau turun yang kuat. Lihatlah grafik rasio emas perak di bawah ini untuk melihat bagaimana rasio tersebut berperilaku sejak tahun 2007.

Pada tahun 2011, ketika harga perak mencapai hampir $50 per ons (area kuning kedua pada grafik rasio emas dan perak), rasionya berada pada level yang sangat rendah yaitu 31. Namun, selama beberapa tahun berikutnya, harga perak turun hampir sepertiga, yang mendorong rasio emas-perak lebih tinggi.

Selama hari-hari awal pandemi Covid-19 dan pengumuman lockdown nasional, emas melonjak di balik status safe-haven, membawa rasio emas-perak ke rekor tertinggi baru hampir 120 (area kuning ketiga di grafik rasio emas perak).

Nah, itulah sekilas pembahasan mengenai rasio-emas dan perak. Bagaimana cara memanfaatkan rasio emas dan perak untuk trading? Yuk baca artikel selanjutnya dengan klik di sini!

Author: Adi Kurniawan

Leave a Reply

four × one =

  • Sign Up
Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.