TraderHUB > Entertainment > Business Insight > Studi Kasus Bisnis Forex

Studi Kasus Bisnis Forex

Posted by: Novi R
Category: Business Insight

Pada tahun 2017 silam, KA sempat menghebohkan negeri karena ia mengaku telah rugi hingga Rp 17 miliar dengan berbisnis Forex. Parahnya, jumlah uang tersebut bukan hanya milik KA seorang namun juga beberapa teman dan orang terdekatnya.

Melakukan Bisnis forex memang menggiurkan dan memiliki potensi keuntungan yang tidak terhingga. Forex (foreign exchange) atau yang biasa disebut valas (valuta asing) merupakan investasi yang menggunakan pertukaran mata uang asing. High risk, high return. Bisnis forex seperti ini memang harus dijalani dengan hati-hati karena ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.

Pada artikel ini tim Traderhub akan mencoba untuk mengulas bagaimana kita bisa menghindari kerugian seperti KA. Yuk disimak!

Bisnis Kepercayaan

KA mengaku bahwa ia mengenal bisnis forex dari salah satu orang terdekatnya. KA juga sempat mendapatkan profit yang sesuai dengan yang dijanjikan sebelumnya. Bahkan KA mulai mengajak beberapa orang terdekatnya untuk bergabung dengan bisnis forex ini hingga terkumpul dana yang lebih besar.

Hanya karena kamu mendapatkan peluang bisnis dari seseorang kamu kenal dekat, jangan lengah. Kamu harus tetap teliti dan mencari tahu lebih banyak soal bisnis yang mereka tawarkan. Bisa jadi teman kamu juga tidak sadar telah terjebak pada skema yang tidak bertanggung jawab.

Fixed Profit

Bisnis forex yang ditawarkan KA menjanjikan fixed profit sebanyak 5%. Jika ia mengajak orang lain, maka ia juga akan mendapatkan ekstra komisi. Oleh karena itu, KA mulai mengajak orang-orang terdekatnya untuk bergabung dengan bisnis forex ini.

High risk always high return. Setiap investasi tentu memiliki risiko yang berbeda-beda, tak terkecuali forex. Investasi forex pada dasarnya tidak memiliki fixed profit oleh karena itu, jika seseorang menjanjikan fixed profit maka kamu harus berhati-hati.

Mengapa tidak ada fixed profit? Karena pergerakan pasar forex yang sangat besar sehingga fluktuasi harga pun menjadi sangat besar dan cepat. Dalam laporan tiga tahunan Bank for National Settlement (BIS) volume transaksi per hari di pasar forex mencapai US$ 5,1 triliun di tahun 2016. Sebagai perbandingan volume transaksi di New York Exchange, bursa saham terbesar di dunia, sebesar US$ 22,4 miliar per hari. Sehingga tidak ada yang dapat menjamin atau memprediksi pergerakan pasar secara tepat 100%.

Manajemen Investasi

KA juga menyebutkan bahwa ia menyetorkan dana secara berkala pada seseorang. Kemudian ia mendapatkan profit yang semula telah dijanjikan. Melihat profit yang diberikan, maka ia mulai menambah dana yang ingin diinvestasikan. 

Sepertinya KA tidak melakukan trading forex sendiri namun melalui manajer investasi. Bagi yang belum tahu, manajer investasi adalah pihak (bisa perorangan atau perusahaan) yang secara profesional mengelola dana nasabah dalam berbagai instrumen investasi, seperti saham, obligasi, dan instrumen-instrumen lainnya, dengan tujuan memperoleh keuntungan bagi para investor yang sudah mempercayakan dananya pada mereka.

Kembali ke kasus KA, biasanya orang tidak mau melakukan trading karena tidak memiliki ilmu yang cukup untuk melakukan trading. Mungkin pada saat itu, pelatihan belum terlalu banyak dan ia tidak melakukan riset lebih dalam tentang proses trading forex. Untungnya saat ini teknologi sudah semakin berkembang dan informasi semakin luas, termasuk pelatihan trading sudah cukup banyak diberikan. Salah satunya dari PT Mentari Mulia Berjangka dengan program TMTE-nya.

Manajemen Risiko

Uang sebesar Rp 17 miliar merupakan uang yang cukup besar untuk melakukan trading forex. Jika menggunakan fixed rate US$1=Rp 10.000, maka ia telah memiliki dana sebesar US$1,7 juta. 

Ketika berinvestasi, termasuk forex kamu harus memperhitungkan potensi loss/rugi karena berinvestasi apapun tidak akan selamanya menguntungkan. Pada kasus KA, ia memasukkan semua dana yang ia miliki (dan dana kolektif) begitu saja tanpa memperhitungkan risiko. Hal ini dapat dikatakan ceroboh karena tidak menerapkan konsep manajemen risiko saat berinvestasi.

Dari kasus KA, kita bisa belajar bahwa kita harus semakin teliti dan berhati-hati sebelum berinvestasi. Untuk investasi derivatif, kita bisa memulai dengan memilih broker yang tepat. Kalau kamu ingin menambahkan poin tentang studi kasus ini, bisa tambahkan di kolom komentar ya!

Author: Novi R

Leave a Reply

1 × 5 =

×
×
×
  • Sign Up
Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.